Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,
“Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
“Ayah, aku yang melakukannya!”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,
“Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.
Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,
“Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku.
“Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata ber- cucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! “Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”
Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.
Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ..”Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya?
Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit.Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
“Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan.
Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku.
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.
Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.Kata- kata begitu susah ku ucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Minggu, 21 Agustus 2011
Sabtu, 20 Agustus 2011
SEDETIK DALAM PROTES
Pernah kalian protes atau mengeluhkan sesuatu? Jika iya maka ‘sama’!Jelas kita manusia meski nggak hoby mengeluh tapi 1 atau dua kali pasti kita mengeluh. Tidak bisa dipungkiri kita sebagai manusia kadang berada di posisi terjepit nan sulit sampai akhirnya kita mengeluarkan keluhan kita. Atau bisa juga tuhan merasa tidak adil pada kita. Bisa saja kan!
Sempat terbesit saya bertanya pada diri saya sendiri “kenapa saya tidak berada di keluarga yang notabene penulis??? Kenapa saya tidak ditaruh di keluarga penulis penulis hebat dan saya bisa mewarisi keahliannya???”. Sekilas mungkin itu. Muncul pertanyaan pertanyaan semacam itu bukan tanpa alasan. Suatu hari, saya ingin meliput kisah ustadz saya yang dulu sewaktu muda beliau dakwah ke timor timur dan berhasil mengislamkan. Saya sangat tertarik dengan kisahnya apalagi yang katanya dia sempet di uber uber orang sana. Maksud hati ingin meminta izin pada beliau agar kisahnya bisa saya tulis dan ingin saya ikutkan lomba tentunya lomba karya tulis. Namun beliau mengatakan bahwa kisahnya sudah ditulis anaknya yang kebetulan se-Mts dengan saya dan sekarang di Insan Cendekia Gorontalo. Beliau dan temen saya tersebut sudah membukukannnya. Mungkin bisa dikatakan air mata hamper berlinang. Bukan maksud saya kecewa. Namun saat itu saya hanya merasa teman saya yang memang notabene keluarganya suka nulis akhirnya bisa membukukan kisah kisah abinya. Dan saat itu juga saya bertanya pada hati saya “kapan kamu bisa seperti dia?”. Campur aduk berbagai protes dalam hati saya. Tapi, saya tau bener sama ustadz saya yang satu ini. Beliau tidak akan membuat saya down. Alhamdulillah dikasih solusi tentang karya yang bagaimana yang harus saya ciptakan. Dan…
Akhirnya…saya sadar betul. Saya bukan teman saya. Ayahnya saya bukan seperti abinya. Kehidupan saya bukan seperti kehidupannya. Namun, Allah SWT memberikan kemampuan yang sama pada setiap hambanya bukan…
yang harus saya lakukan adalah hanya mensyukuri apa yang ada. Allah tidak adil? Mungkin iya pada awalnya kita merasa Allah SWT tidak adil. Tapi saya yakin, Allah SWT sudah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya masing dengan tepat.
Bisa saja jika ayahnya saya adalah seorang penulis, saya lebih manja padanya dan males ngasah kemampuan. Buat apa toh ada ayah saya. Meski sebenarnya bapak ibukku kurang setuju aku hoby nulis, meski ayah ibukku bahkan tidak setuju aku mengkoleksi buku buku bacaan selain buku pelajaran. Meski tiap kali aku dimarahi saat sibuk merangkai kata demi menciptakan sebuah karya. Dan meski keluarga, bapakku atau ibuku bukan seorang penulis atau direktur penerbit, semuanya tidak akan menghalangi impian saya untuk menjadi penulis hebat seperti “mereka”. Keadaan saya seperti ini bukan untuk dikeluhkesahkan pada tuhan namun untuk disyukuri. Karena dengan begini saya selalu ditempa untuk terus belajar menciptakan karya.
Last but not least
Fina rafa alfarisy
oleh Fina Farhi Yasifun
Label:
catatan facebook
Jumat, 19 Agustus 2011
kalimat sederhanaku
Mungkin kini aku akan mulai mencoba merangkai sebuah kalimat indah
Ya, sebuah kalimat yang akan memukau para pembacanya Yang menyimpan sejuta makna dalam kata
Kalimat yang akan selalu terngiang dalam lamunan setiap pembacanya, kalimat yang cukup sederhana namun penuh gema mengguncang nalar mereka
Akan kuberi sebuah sentuhan hangat nan menusuk, serta sedikit cuilan-cuilan puitis didalamnya Hingga semua orang benar-benar terpukau melihatnya Ya, benar-benar terpukau
Kalimat ini benar-benar akan membuat mata terparanga tak mau memalingkan ke suatu lain
Mulai sekarang! Aku memulai merangkai semua kata-kata acak yang ada didalam otakku
Kuambil satu persatu Kucoba menyusunnya perlahan serambi mencari maknanya Mencari sebuah makna besar dari rangkaian itu
Hm...Tak kudapat yang kuingin
Ku buyarkan semuanya, lalu perlahan kucoba merangkainya kembali
Dengan ekstra konsentrasi
Peluhku mulai mengguyur Tak ku pedulikan Yang penting aku dapat menyelesaikan kalimatku
Ya, terulang kembali! Lagi-lagi ku buyarkan
"Ini kala terakhir!", desahku menyesak Benar-benar sesak dalam dada
Inginku berteriak "Help me!", tapi aku bisa tanpa siapapun
Sekarang kucoba berdiam sejenak Kukumpulkan semua kata yang berserakan Perlahan
Aku tak mau obsesiku membuyarkan semua makna yang akan kurangkai
Satu persatu kurangkai kata tersebut Perlahan nampak makna besar yang kuingin
Ya, aku dapat!
Sekarang aku benar-benar dapat kalimat yang kuingin
Dan senyumku mengembang menghantar sebuah kalimat sederhana ini "AKU SAYANG KAMU (M.ROBBY FAUZI)"

Ya, sebuah kalimat yang akan memukau para pembacanya Yang menyimpan sejuta makna dalam kata
Kalimat yang akan selalu terngiang dalam lamunan setiap pembacanya, kalimat yang cukup sederhana namun penuh gema mengguncang nalar mereka
Akan kuberi sebuah sentuhan hangat nan menusuk, serta sedikit cuilan-cuilan puitis didalamnya Hingga semua orang benar-benar terpukau melihatnya Ya, benar-benar terpukau
Kalimat ini benar-benar akan membuat mata terparanga tak mau memalingkan ke suatu lain
Mulai sekarang! Aku memulai merangkai semua kata-kata acak yang ada didalam otakku
Kuambil satu persatu Kucoba menyusunnya perlahan serambi mencari maknanya Mencari sebuah makna besar dari rangkaian itu
Hm...Tak kudapat yang kuingin
Ku buyarkan semuanya, lalu perlahan kucoba merangkainya kembali
Dengan ekstra konsentrasi
Peluhku mulai mengguyur Tak ku pedulikan Yang penting aku dapat menyelesaikan kalimatku
Ya, terulang kembali! Lagi-lagi ku buyarkan
"Ini kala terakhir!", desahku menyesak Benar-benar sesak dalam dada
Inginku berteriak "Help me!", tapi aku bisa tanpa siapapun
Sekarang kucoba berdiam sejenak Kukumpulkan semua kata yang berserakan Perlahan
Aku tak mau obsesiku membuyarkan semua makna yang akan kurangkai
Satu persatu kurangkai kata tersebut Perlahan nampak makna besar yang kuingin
Ya, aku dapat!
Sekarang aku benar-benar dapat kalimat yang kuingin
Dan senyumku mengembang menghantar sebuah kalimat sederhana ini "AKU SAYANG KAMU (M.ROBBY FAUZI)"
oleh Lucy Meirawati
Label:
catatan facebook
KEHIDUPAN MAHASISWA SUPER KONYOL --- lebay vers 10.00.1.5
KEHIDUPAN MAHASISWA SUPER KONYOL --- lebay vers 10.00.1.5
oleh Arsega mania pada 17 Agustus 2011 jam 11:20
buat yang masih maba [don't over expectation]
buat yang senior [what the F&*K]
buat yang gak wisuda2 :[kemane aje lu]
buat yang mengenang masa-masa kuliah dulu [ hehehe :) , lol ]
Lansung aja deh cekidot
1 Spoiler for Download File ?:
2 Spoiler for Tugas ga ya...?:
3 Spoiler for Survival anak kampus...:
4 Spoiler for sekian lama menunggu juga ternyATAAA
5 Spoiler for Kerjain tugas...:
6 Spoiler for Molor...:
7 Spoiler for Siklus Tugas:
8 Spoiler for Saat2 yang dinanti mahasisa:
9 Spoiler for Beda anak SMA sama Mahasiswa: curhat mahasiswa biker
10 Spoiler for Derita anak Kost:
Spoiler for ehem...: Makan pagi sekalian makan siang ATAUUU....
Spoiler for ehem...: Makan sore sekalian makan malam
11 Spoiler for yang pertama mahasiswa liat:
12 Spoiler for catatanku:
13 Spoiler for tidak adil...:
14 Spoiler for kasian deh lo :P:
15 Spoiler for ke kampus naik kereta:
16 Spoiler for sahabat ujian:
17 Spoiler for detik-detik belajar
18 Spoiler for gangguan bisa datang dari mana saja dan kapan saja:
19 Spoiler for rencana makan mahasiswa:
20 Spoiler for Obrolan Dosen Dikala Senggang: weit yang empunya microsoft
21 Spoiler for NIM oh NIM:
21 Spoiler for Doa Mahasiswa:
22 Spoiler for Sediakan Rokok Sebelum Bertindak:
23 Spoiler for Semangat awal ngampus:
24 Spoiler for Kalo bisa besok kenapa harus sekarang ?:
25 Spoiler for libur ngampus: dosen tidak sebaik yang kamu kira
26 Spoiler for Balada Laporan TA:
27 Spoiler for Deadline !!:
28 Spoiler for Iri atau Ironi:
29 Spoiler for Saat yang ditunggu-tunggu ternyata...:
30 Spoiler for Akibat menunda-nunda:
31 Spoiler for dilema antara KENYANG dan LAPAR !:
32 Spoiler for Dear Tugas...:
33 Spoiler for peribahasa mahasiswa... .
34 Spoiler for BF mahasiswa tanggal tua: Ga ada rendang ? Masi ada indomie rasa rendang
35 Spoiler for pilih yang mana ya... :
36 Spoiler for Berbanding terbalik...:
37 Spoiler for Cara dapet nilai bagus:
38 Spoiler for Saat harapan tidak sesuai dengan kenyataan:
39 Spoiler for Dosen yang begitu pengertian:
40 Spoiler for Penyebab mahasiswa males masuk kuliah:
41 Spoiler for are u smarter than her...?:
42 Spoiler for cerita yang lain [another story] cowok yang selalu salah:
43 Spoiler for pepatah dosen:
44 Spoiler for juru penyelamatmu di akhir bulan:
45 Spoiler for hemat di bulan puasa...?:
46 Spoiler for hentikan perploncoan!!!:
47 Spoiler for ati maba...?:
48 Spoiler for dosen killer puol:
49 Spoiler for dear bapak/ibu dosen...:
50 Spoiler for tugAAASSS...?:
mahasiswa so apaan :]
1. Study Oriented : rajin belajar, mengejar nilai tinggi dan lulus tepat waktu (kalau bisa bahkan fast track) ataupun cumlaude.
2. Science Oriented : mengejar dan senang untuk mempelajari ilmu pengetahuan sesuai konsep dan tentunya riset. Terkadang hobi ikut lomba karya ilmiah.
3. Social Oriented : hobi nyari teman atau link karena merasa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan makhluk lainnya.
4. So sial Oriented : entah dewi fortuna yang pergi menghilang atau entah memang suratan takdirnya, mahasiswa ini selalu ketiban sial. Contohnya ya yang seperti udah belajar ampe malem tapi tetep dapet jelek mulu.
5. SNSD / Super Junior / SHINee / SM*SH Oriented : isi otak adalah MV, performance maupun variety show yang kalo udah ketemu sesama, suka heboh sendiri bahas anggota mana yang paling disukai.
6. Sharing Oriented : kalo yang ini, HDDnya nggak dibatasi oleh K-Pop saja dan biasanya HDDnya minimal 1 TB.
7. Sambilan Oriented : nggak jaman lagi kuliah dibayarin orang tua, katanya. Udah mandiri dengan uang hasil kerja sambilannya yang entah itu berupa jualan pulsa, jadi guru privat maupun ngajar ngaji.
8. Spiritual Oriented : ke kampus bawaannya kitab suci, menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan haram dan tingkah lakunya sopan santun.
9. Sentai Oriented : masa kecil sangat bahagia dengan yang namanya Power Ranger sampai-sampai pas udah kuliah pun nggak melewatkan satu episode sampai episode terakhir Power Ranger Samurai maupun Goseiger.
10. Sok Waeh Oriented : yang satu ini punya prinsip jalani hidup tanpa beban, katanya sih “Go with the flow”.
singkatan matkul
#SingkatanMatkul
PENGAMEN = Pengantar Manajemen
PSSI = Perencanaan Strategi Sistem Informasi
TETE BANCI = TEori TErjemahan BAhasa peraNCIs
SANTRI = Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia
KUMAN = huKUM huMANiter
AEN PES = manajemen inpestasi (invest)
PEMPER BAN = Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
BEOL = BErkarya & berOLahraga
REMISI = Reformasi Administrasi
SIMBADA = Sistem Basis Data
INEM = INkubasi EMbryologi
KOTEK = eKOnomi TEKnik
ASMA = Asas Asas Manajemen
MAS SUPER = Manajemen Sumber Daya Perairanan
LO MATI = LOgika mateMATIka
DADA PECIN = Dasar-Dasar Pemikiran Cina
FOKEB = Formulasi Kebijakan Publik
BOOL= Biologi Molekuler
KUPER = aKUntansi PERpajakan
DAJAL = DAsar JurnAListik
PETAR PAN = PEnganTAR PendidikAN
PERAWAN = Perkembangan Hewan
KUYA = aKUntansi biaYA
TETEK = Teori Arsitektur
KI ANAL = Kimia Analitik
PENTIL = Pengantar Akutansi dan Logika
EEK RAKYAT = Perekonomian Kerakyatan
EMAK = Ekonomi MAKro, bisa MAK’E = Makroekonomi
PELOR= Perilaku Organisasi
SIA2 (baca:sia-sia) Sistem informasi Akuntansi 2
Slogan Mahasiswa yang tak kunjung lulus:
“Life isn’t a race to be won, but a journey to be enjoyed..”
Orang normal: ga bisa tidur karena InsomniaKamu: ga bisa tidur karena koneksi internet kenceng
Langganan:
Komentar (Atom)
