Pages

Sabtu, 20 Agustus 2011

SEDETIK DALAM PROTES

Pernah kalian protes atau mengeluhkan sesuatu? Jika iya maka ‘sama’!
Jelas kita manusia meski nggak hoby mengeluh tapi 1 atau dua kali pasti kita mengeluh. Tidak bisa dipungkiri kita sebagai manusia kadang berada di posisi terjepit nan sulit sampai akhirnya kita mengeluarkan keluhan kita. Atau bisa juga tuhan merasa tidak adil pada kita. Bisa saja kan!
Sempat terbesit saya bertanya pada diri saya sendiri “kenapa saya tidak berada di keluarga yang notabene penulis??? Kenapa saya tidak ditaruh di keluarga penulis penulis hebat dan saya bisa mewarisi keahliannya???”. Sekilas mungkin itu. Muncul pertanyaan pertanyaan semacam itu bukan tanpa alasan. Suatu hari, saya ingin meliput kisah ustadz saya yang dulu sewaktu muda beliau dakwah ke timor timur dan berhasil mengislamkan. Saya sangat tertarik dengan kisahnya apalagi yang katanya dia sempet di uber uber orang sana. Maksud hati ingin meminta izin pada beliau agar kisahnya bisa saya tulis dan ingin saya ikutkan lomba tentunya lomba karya tulis. Namun beliau mengatakan bahwa kisahnya sudah ditulis anaknya yang kebetulan se-Mts dengan saya dan sekarang di Insan Cendekia Gorontalo. Beliau dan temen saya tersebut sudah membukukannnya. Mungkin bisa dikatakan air mata hamper berlinang. Bukan maksud saya kecewa. Namun saat itu saya hanya merasa teman saya yang memang notabene keluarganya suka nulis akhirnya bisa membukukan kisah kisah abinya. Dan saat itu juga saya bertanya pada hati saya “kapan kamu bisa seperti dia?”. Campur aduk berbagai protes dalam hati saya.  Tapi, saya tau bener sama ustadz saya yang satu ini. Beliau tidak akan membuat saya down. Alhamdulillah dikasih solusi tentang karya yang bagaimana yang harus saya ciptakan. Dan…
Akhirnya…saya sadar betul. Saya bukan teman saya. Ayahnya saya bukan seperti abinya. Kehidupan saya bukan seperti kehidupannya. Namun, Allah SWT memberikan kemampuan yang sama pada setiap hambanya bukan…
yang harus saya lakukan adalah hanya mensyukuri apa yang ada. Allah tidak adil? Mungkin iya pada awalnya kita merasa Allah SWT tidak adil. Tapi saya yakin, Allah SWT sudah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya masing dengan tepat.
Bisa saja jika ayahnya saya adalah seorang penulis, saya lebih manja padanya dan males ngasah kemampuan. Buat apa toh ada ayah saya. Meski sebenarnya bapak ibukku kurang setuju aku hoby nulis, meski ayah ibukku bahkan tidak setuju aku mengkoleksi buku buku bacaan selain buku pelajaran. Meski tiap kali aku dimarahi saat sibuk merangkai kata demi menciptakan sebuah karya. Dan meski keluarga, bapakku atau ibuku bukan seorang penulis atau direktur penerbit, semuanya tidak akan menghalangi impian saya untuk menjadi penulis hebat seperti “mereka”. Keadaan saya seperti ini bukan untuk dikeluhkesahkan pada tuhan namun untuk disyukuri. Karena dengan begini saya selalu ditempa untuk terus belajar menciptakan karya.

Last but not least
Fina rafa alfarisy